Jejak Petualang
Bantarwaru lebih tepatnya Desa Bantarwangi
kampung dahu Kecamatan Cinangka Banten tempat kita mengabdi selama 1 bulan.
Ini merupakan salah satu program pembinaan dari Beasiswa Aktivis Nusantara
yakni Marching For Boundaries (MFB). Pertama kali kita diberikan informasi
mengenai kondisi daerah ini membuat diri ini bersyukur karena kondisi desa ini
tidak terlalu parah dengan kondisi daerah-daerah terpencil yang lain di
Indonesia.
Hari pertama ketika kita diantar dari pihak beasiswa,
saya mulai khawatir ketika kita memasuki jalan yang menanjak dan sinyal
handphone pun sudah menghilang, semakin dalam mobil kita melaju
pemandangannya pun sudah hutan kanan-kiri ditambah jalan yang rusak membuat diri
ini risau.
Saat kita tiba di kampung Dahu kita disambut baik oleh SDN Bantarwaru dan masyarakat kampung Dahu. Keunikan di kampung ini ialah terletak pada makanannya yakni kulit tangkil atau melinjo, sayur singkong,
ikan kesek (ikan asin) dan sarapan paginya makan cau alias pisang goreng dan
segelas teh manis. Dengan cuaca yang dingin membuat selera makan kita meningkat
dengan menu yang sederhana tapi rasanya seperti makan di restoran saja. Hampir
setiap hari sepatu kita berlumuran lumpur karena curah
hujan yang tinggi.
Selain makananya saya sangat salut dengan masyarakat kampung Dahu, mereka memiliki
kasih sayang yang sangat luar biasa, kasih mengasihi. Mulai dari yang kecil
sampai yang remaja, mereka selalu bermain pasti membawa adik-adik mereka.
Jarang sekali dijumpai di anak-anak sekarang atau kids zaman now, mereka
sibuk mengurusi diri mereka masing-masing. Irih sekali melihat persaudaraan mereka. Faktor lain juga karena orang tua mereka sibuk berkerja sehingga peran
kakak itu muncul. Kakak yang berperan menjaga adiknya, melindungi adiknya,
mengasihi adiknya. Maka nilai persaudaraan yang saya temukan di kampung Dahu ini
tinggi sekali. Banyak sekali ibu-ibu mereka yang berkerja menjadi BMI (Buruh
Migran Indonesia) yang di Arab. Hal ini tentunya bukan suatu yang baru bahkan
disini kalau mau memiliki penghasilan yang berlebih maka menjadi TKI itu solusi bagi masyarakat di sana.
Selama berada di kampung Dahu kita juga mengadakan beberapa kegiatan yakni senam pagi, renovasi saung baca, tensi
keliling, membuat taman baca masyarakat, edukasi pertolongan pertama, edukasi
dampak dari film porno, kelas motivasi, refleksi diri, nonton bareng,
babacakan (makan-makan) dan rihlah alam sekitar.
Satu bulan kita di sana hanya dapat menggoreskan secercah tinta kebermanfaaatan,
bertemu dengan mereka adalah anugerah terindah dan akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Diri ini tidak pernah merasa rugi ataupun menyesal menukarkan kesempatan untuk menghadiri wisuda sarjana demi memperoleh ilmu dan keluarga baru disana, ya ini adalah takdir. Takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT aku tidak pernah merasa kecewa dengan skenario yang telah dibuat oleh sang khaliq.

Comments
Post a Comment