Membaktikan
Diri, Mencerdaskan Bangsaku
Menyambut bonus demografi
mendatang, Indonesia akan dibanjiri oleh penduduk dengan usia produktif yaitu
penduduk yang berusia enam belas sampai dengan enam puluh empat tahun. Keadaan
ini bisa menjadi bumerang ataupun menjadi kesempatan emas bagi bangsa Indonesia
untuk memberikan perubahan pada dunia. Keadaan ini bisa menjadi bumerang bagi
bangsa ini apabila penduduk Indonesia yang berada pada usia produktif ini tidak
memiliki kualitas dan integritas untuk membangun bangsa. Padahal, pasca bonus
demografi ini sudah dapat diprediksi bahwa akan ada banyak penduduk Indonesia
yang akan masuk ke usia tua atau tidak pada usia produktif lagi. Namun,
kesempatan ini akan menjadi kesempatan emas bagi bangsa Indonesia apabila bonus
demografi ini dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. Bagaimana tidak, penduduk
usia produktif ini akan diisi oleh pemuda-pemuda yang menggelora dan yang
selalu diidentikan dengan perubahan . Seperti halnya perkataan Bapak Soekarno,
pemuda yang merupakan Founding Father negara
ini, Beliau pernah menyebutkan “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut
semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia”.
Begitu hebatnya kekuatan seorang pemuda sehingga sepuluh pemuda pun dapat
mengguncangkan dunia. Sehingga dapat kita bayangkan bagaimana ketika seluruh
pemuda di negeri ini bersatu padu, menjadi pilar kebangkitan, pengibar
panji-panjinya untuk membangun bangsa ini menjadi bangsa yang hebat dan tidak
lagi dipandang sebelah mata oleh negara-negara lainnya di dunia.
Berbicara mengenai pemuda
maka tidak akan ada habis-habisnya karena pemuda yang identik dengan darah muda
dan semangat juangnya ini merupakan tulang punggung bangsa, harapan bangsa dan
masa depan bangsa . Bahkan apabila kita berbalik ke belakang melihat sejarah
bangsa ini, bangsa ini pun dibangun oleh para pemuda, sebut saja Soekarno, Moh
Hatta, Hamka, Sutan Syahrir , Bung Tomo dan sebagainya. Gerakan reformasi yang
menumbangkan rezim orde baru pada tahun 1998 juga dipelopori oleh pemuda dan
mahasiswa. Betapa dengan gagah beraninya para pemuda mencetak sejarah bangsa
dan betapa besarnya peran para pemuda yang menjadi agent of change, iron stock dan social control untuk memberikan
kontribusi nyatanya dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
terbentang dari sabang sampai merauke ini.
Gerakan-gerakan pemuda makin
meraja-lela baik pemuda Indonesia yang berada di luar negeri maupun di dalam negeri.
Gerakan ini bisa kita lihat dengan adanya organisasi-organisasi yang ada di
perguruan tinggi maupun pembinaaan pemuda dalam bentuk beasiswa pendidikan yang
kelak itu merupakan investasi negara dalam memperbaiki skill sumber
daya manusianya, sebut saja mahasiswa.
Berkesempatan PPL atau
praktek mengajar di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Kabupaten
Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Saya diliputi rasa bahagia sekaligus dan khawatir,
perasaan itu menimbulkan pertanyaan di dalam hati. Bisakah saya mengajar dengan
ilmu yang masih sedikit ini?. Tentunya kegiatan ini memang wajib untuk mahasiswa
keguruan semester tujuh, tapi merupakan kesempatan yang sangat berharga sekali.
Sayang kalau kita menyia-nyiakan peran kita yang penting di dalam sistem
pendidian Indonesia. Bukan hanya mengkritisi, tapi juga terlibat menjadi pendidik.
Sehingga hal ini menjadi pengalaman yang
jauh berbeda dari kegiatan sosial yang pernah saya lakukan selama ini. Kalau
dulu, kami mengajar di desa-desa dengan konsepan kegiatan yang kita buat secara
sederhana dan menjalankannya tidak terlalu intensif. Akan tetapi kegiatan PPL
ini, kami ikut andil menjalankan kurikulum yang sudah disusun oleh kementerian
pendidikan RI, dan hampir setiap hari bertemu dengan anak didik.
Tanggal 22 Agustus 2016, pukul 08.00 WIB kaki
ini berpijak di SMAN itu dengan bekal ilmu seadanya. Mata ini terkesima dengan
budaya disiplin yang ada di sekolah tersebut, karena jam 06.45 pintu gerbang
sekolah sudah ditutup. Setelah itu mereka melaksanakan pembersihan baik di dalam
kelas maupun di perkarangan sekolah. Selanjutnya mereka masuk ke dalam kelas
menyanyikan lagu Indonesia raya yang diiringi instrumen dari pengeras suara yang
ada di kantor sekolah dan melakukan budaya literasi serta tilawah al-qur’an secara
bersama-sama. Barulah jam pertama pembelajaran dimulai, itulah kegiatan
rutinitas yang dilakukan seluruh elemen-elemen masyarakat sekolah termasuk
gurunya.
Minggu pertama masuk ke kelas
tentunya kita tidak serta-merta langsung masuk ke materi pelajaran, perkenalan
diri terlebih dahulu karena ada pepatah mengatahkan “tak kenal maka tak cinta”.
Guru yang profesional itu adalah guru yang dapat menciptakan suasana belajar
yang santai tapi dapat membuat siswa-siswinya mengerti dan paham dari pelajaran
yang dijelaskan. Keesokan harinya ketika saya tidak ada jam ngajar tiba-tiba
ada 3 orang siswa yang menghampiri saya, untuk meminta saya masuk ke kelas
mereka. Saya pun ikut dengan mereka. Ternyata ketiga siswa itu adalah siswa
kelas XII, sebenarnya Guru PPL tidak diperbolehkan mengajar kelas XII alasannya
karena kelas XII sebentar lagi mau ujian nasional. Pasalnya tidak mungkin
tiba-tiba saya menolak untuk tidak jadi mengajar
di kelas mereka, saya sudah terlanjur mengiyakan ajakan mereka. Raga ini masih
berdiri di teras depan kelas mereka tiba-tiba beberapa siswa yang ada didalam kelas itu keluar
dan berkata “ ibu... masuk kelas kami
kan bu??? Kami stres bu, kami butuh hiburan buk. Sambil mengkrutkan dahi dan
berkata di dalam hati, apa mereka tidak salah, saya di sini guru, guru yang tugasnya
adalah ngajar kok mereka minta saya untuk menghibur mereka? Walau pertayaan ini
masih berkutat di hati saya tetap langkah kaki ini maju kedepan untuk masuk menyapa aset negara
yang bernyawa ini. Dengan penuh harap saya bisa mengurangi beban stres mereka.
Tak disangka mereka
meminta saya untuk perkenalan diri bukan untuk mengajar, mereka mengeluh stres
dengan rutinitas mereka. Awalnya saya
sempat kurang percaya diri berbicara di depan mereka pasalnya faktor umur yang
tidak terlalu bedah jauh dengan mereka, rasanya seperti teman bukan seperti
anak didik. Kembali saya yakinkan diri saya bahwa saya adalah guru mereka. Saya
tegakkan kepala ini dan menatap mereka penuh tajam. Saya memperkenalkan diri
dan bercerita bagaimana pengalaman saya saat SMA dan pengalaman saya duduk di bangku
kuliah. Untuk menaklukkan hati mereka kita harus punya banyak cerita, karena kelas
XII pasti butuh suport dan motivasi
jadi saya bercerita bagaimana saya bisa masuk universitas negeri dan mendapatkan
beasiswa, tatapan mata mereka penuh dengan rasa keingintahuan yang mendalam
sehingga membuat mereka memperhatikan apa saja yang saya bicarakan di depan
kelas. Dan dari sanalah awal saya sadar bahwa penghargaan seorang guru terlihat
dari kepercayaan peserta didiknya. Percaya bahwa gurunya yang benar, percaya
bahwa gurunya yang tau seluruh ilmu pengetahuan, percaya seluruh yang dibicarakan
gurunya adalah lmu yang bermanfaat. Disini terlihat bahwa hari ini wajah Indonesia
bisa berubah dilihat profesionalisme seorang pendidik. Pendidik yang mampu
menyadarkan siswanya dari tidur lelap mereka, karena sesungguhnya mereka ialah
aset negara yang tak terhitung nilainya.
Menyenangkan rasanya
menjadi seorang pendidik pagi hari kita sudah disapa dengan panggilan ibu dan
disalami selayaknya orang tua mereka, melihat semangat mereka untuk belajar,
dan tingkah nakal mereka, itu semua adalah kepuasan dibatin yang belum tentu
kita temukan di profesi dunia pekerjaan lainnya. Senang rasanya ketika mereka
aktif bertanya saat proses pembelajaran di kelas, tuntas ujian hariannya, mampu
mengeluarkan gagasan-gagasan atau pendapat-pendapat
yang luar biasa yang kadangkalah sang guru pun tak terpikirkan tapi ternyata
siswa-siswinya dapat berfikir begitu kritis.
Menjadi guru selama 2
bulan rasanya belum cukup dalam kontribusi sebagai pemuda Indonesia untuk
mewujudkan tujuan bangsa, yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yakni
mencerdaskan kehidupan bangsa. Mengajar bukan ingin dilabel sebagai ibu cantik,
ibu gaul tapi cukup menjadi guru yang dikenang sepanjang masa. Dikenang atas
jasanya yang mengantarkan siswa-siswinya menjadi orang yang bermanfaat untuk
bumi pertiwi Indonesia. Ada beberapa tulisan kesan dan pesan dari salah satu
peserta didik saya kurang lebih seperti ini tulisannya :
From : No Name
Assalamualaikum...Ibu
Khairah Ukhtiyani, terimakasih waktu 2 bulannya. Selama ibu mengajar, aku jadi
lebih bisa memahami materi, maaf aku yang mungkin sering tak sengaja melukai
hati ibu. Ibu khai, jujur aku menyayangi
ibu beda dengan guru ppl yang lain. Ada kekaguman tersendiri yang aku rasa
sejak awal mulai ibu mengajar. Ibuk khai, tetap jadi ibu yang sabar dan memiliki
senyum yang luar biasa. Terus sehat buk ya, semoga apapun yang ibuk
cita-citakan terwujud. Sukses dunia akhirat ibuk cantik. Jangan lupakan kami
yang nakal ini. Wassalamualaikum... Semoga
kita bisa bertemu di lain kesempatan ibuk khai.
From : Fitri Annisa Komariah
To : Ibu Khairah Ukhtiyani
Terimakasih untuk ibu karena selama 2
bulan ini sudah mengajar kami. Untuk semua motivasi dan inspirasinya diantara
Guru PPL lainnya menurut aku ibuk termasuk guru terfaforit dalam pengetahuan,
pengalaman dan motivasi, untuk sharenya juga menarik sekali. Semangat ibu dalam
mengajar itu bikin kami semangat juga. Tetap jadi ibu khairah yang kami kenal,
yang baik, semangat dan memiliki motivasi tinggi. Terus capai apa yang ibu
ingin capai. Dan buatlah lebih banyak lagi pemuda-pemudi di indonesia
terinspirasi dan termotivasi oleh ibuk. Dan maaf juga kami sering bikin ibu
pusing, kami banyak salah sama ibuk. See
you next time.. thank you very much
With love ,
Fitri Annnisa Komariah.
Itu
adalah beberapa tulisan pesan lebih tepatnya saya menyebutnya surat cinta yang
saya dapatkan dari siswa-siswi tempat saya mengajar. Sedih, senang bercampur
menjadi satu ketika membaca tulisan-tulisan mereka karena pertemuan singkat ini
meninggalkan kesan yang mendalam, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Singkatnya
waktu juga bukan berarti menjadi alasan kita untuk berdiam tanpa memanfaatkan
kesempatan. Kesempatan saya bisa menjadi guru selama 2 bulan saya gunakan untuk
menumbuhkan sikap nasionalisme di tengah padatnya matapelajaran yang mereka
tempuh, percuma memiliki anak bangsa berintelektual tinggi tanpa dilandasi
karakter-karakter dan moral bangsa yang kokoh, karena hari ini Indonesia sedang
mencari putra-putri terbaik untuk bersama menyongsong Indonesia Emas 2045 sesuai
dengan ikrar sumpah pemuda yang pernah kita lafalkan sebagai putra-putri
Indonesia.
Pesan singkat untuk mereka insan
cendekiawan bangsa,
“ Anak-anak didikku teruslah belajar
mengejar cita-cita kalian tanpa mengenal kata lelah, karena lelah sekarang
belum tentu lelah dimasa depan.”
Salam cinta dari jejak sang petualang perbaikan bangsa.
Comments
Post a Comment